Category Archives: Aset PCM Gombong

Ikrar Wakaf Tanah di Grenggeng

Kronologis

Kamis, 5 Januari 2012 bapak Maruto Aji anak ke 6 dari Ibu Ngasifah melihat anak TK yang menggunakan pakaian sekolah muslim. Beliau mengikuti terus di belakangnya untuk mengetahui dimana letak sekolah anak tersebut berada. Meski harus sempat kehilangan “buruan”, akhirnya Maruto Aji berhasil menemukan sekolahnya. Ini dilakukan oleh Maruto Aji dalam rangka mencari tahu yayasan tempat sekolah anak tersebut berada dengan harapan yayasan dapat menerima tanah wakaf dari ibu Ngasifah.

Sesampainya di TK tempat anak sekolah tersebut, oleh seseorang yang berada di sana pak Aji diantar ke MI Muhammadiyah Klopogodo dan dipertemukan dengan kepala MI. Gayung bersambut, niat bapak Maruto Aji diterima dengan baik oleh Mohamad Khojim, S.Ag yang secara kebetulan adalah anggota Nadzir Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong yang bahkan pada periode sebelumnya beliau sendiri adalah ketua nadzirnya. Kemudian Pak Aji menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke Klopogodo. Beliau menjelaskan bahwa ibunya berniat mewakafkan tanah seluas 2.160 yang berasal dari harta waris peninggalan ibunya. Pak Aji meminta pak Khojim untuk segera menemui Ibu Ngasifah, barang kali beliau berkenan mewakafkan tanahnya kepada yayasan Muhammadiyah. Karena jika tanah tersebut diwakafkan kepada yayasan, tentu akan lebih terjaga penggunaannya untuk kepentingan umat Islam dibanding tanah tersebut diserahkan kepada nonyayasan.

Seketika itu juga pak Khojim menghubungi ketua Nadzir PCM Gombong untuk segera datang ke MI Muhammadiyah Klopogodo, karena ada yang mau wakaf tapi keberadaannya di sini hanya dua hari sehingga dalam dua hari tersebut harus pengurusan wakaf tanah harus bisa selesai. “ini kesempatan baik, jangan sampai terlewatkan, jelas pak Khojim lewat telphon kepada ketua Nadzir”.

Setelah bertemu antara Pak Khojim, Ketua Nadzir PCM Gombong, Ibu Ngafiah dan anak-anaknya membuat kesepakatan waktu untuk melaksanakan ikrar wakaf. Oleh karena itu, pihak Nadzir Muhammadiyah segera mengurus surat-surat tanah ke pihak desa, lobi KUA Karanganyar, menulis ikrar dan akta ikrar wakaf dan lain-lain. Sehingga dalam sehari diupayakan semuanya selesai. Meskipun dari pihak KUA mengharuskan tanah tersebut harus diukur terlebih dahulu oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) sebelum ikrar wakaf dilaksanakan. Bersyukur ketua nadzir punya teman petugas ukur di BPN. Aakhirnya dengan ijin Allah surat-surat tanah dan akta ikrar wakaf selesai diketik pada hari itu juga sehingga pelaksanaan ikrar wakaf pada hari berikutnya sudah bisa direalisasikan. Adapun pengukuran tanah dilaksanakan pada hari berikutnya sebelum ikrar dilaksanakan.

Sebelum dilaksanakan pengukuran oleh petugas dari BPN, luas tanah ibu Ngafiah  semula adalah 2.360 M2. Ibu ngafiah berkeinginan untuk mewakafkan tanahnya yang 2.160 M2 sementara yang 200 M2 dihibahkan kepada saudara sepupunya yaitu ibu Walilah dan anak-anaknya yang selama ini merawat dan memanfaatkan tanah tersebut. Namun setelah dilakukan pengukuran oleh BPN, tanah  yang diwakafkan seluas 2.067 M2 sementara tanah yang dihibahkan kepada ibu Walilah seluas 253 M2.

 

Biografi Ibu Ngafiah

Ibu Ngafiah dilahirkan di kampung Kauman Kebumen 81 tahun yang lalu. Sebetulnya beliau terlahir pada tahun 1932, namun ketika menikah surat kelahiran dibuat lebih tua yaitu seolah-oleh lahir tahun 1930. Ngasifah terlahir dari seorang ibu bernama Satimah, namun setelah ibu ke Surabaya dan sering mengaji di sana nama beliau diganti menjadi Fatimah oleh guru ngajinya. Sementara itu nama kecil bapaknya Dulbasir namun setelah tua diganti nama menjadi Muhammad Ihsan.

Ketika jaman Belanda ibu Ngasifah dan keluarga pindah ke Desa Grenggeng Dk. Setono Kunci Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen. Saat itu terjadi kerusuhan, sehingga untuk menyelamatkan diri dan kebetulan nenek Moyang dari Ibu Ngasifah berasal dari Grenggeng.

Ibu Ngasifah pernah sekolah di MVS di Kebumen, sekarang adalah kantor Dikpira Kabupaten Kebumen, selatan alun-alun Kebumen. Dulu semacam sekolah dasar pada jaman Belanda. Beliau menikah dengan Sariman pada tahun 1950. Suaminya seorang tentara  yang selalu berpindah tugas di Kutowinangun, Tanci Gombong, Pekalongan, terakhir di Surabaya. Sebetulnya beliau sendiri bercita-cita ingin menjadi guru namun karena ketaatan kepada suami akhirnya beliau berprofesi sebagai ibu rumah tangga mengurusi suami dan anak-anaknya. Adapun nama-nama anak beliau antara lain :

  1. Siti Asiyah, bekerja sebagai guru dan akhirnya menjadi pengawas sekolah di Jakarta.
  2. Joko Suryanto,  tinggal di Sidoarjo, bekerja di hotel sultan namun sudah pensiun.
  3. Sri Tri Lasmini, guru Kimia SMA tinggal di Wiradesa Pekalongan.
  4. Rochaeni, ibu rumah tangga. Tinggal di Surabaya.
  5. Dedi, Tentara Angkatan Laut berpangkat kolonel. Tinggal di Jakarta.
  6. Maruto Aji, tinggal di Jln. Ambeng-Ambeng selatan No. 24 Ds. Mingas Kec. Waru Kab. Sidoarjo-Jawa Timur.
  7. Saeful Bachri, tinggal di Sidoarjo. Bekerja sebagai

ibu Ngafiah memiliki warisan tanah dari Ibunya berupa tanah pekarangan yang terletak di Grenggeng-Karanganyar-Kebumen. Sementara itu, beliau mengikuti suami dinas di luar kota, yang pada akhirnya beliau menetap di Surabaya. Disisi lain, anak-anaknya sudah besar dan masing-masing boleh dikatakan sukses semua sehingga beliau memandang tanah tersebut baiknya diwakafkan saja. Tanah seluas 2.360 M2 diurus dan dikelila oleh saudara sepupunya, yaitu ibu Walilah. Di atasnya ditanami kayu dan didirikan 2 rumah sederhana milik ibu Walilah dan anaknya. Sebetulnya ibu Ngafiah sudah lama berkeinginan mewakafkan sebagian besar tanah tersebut dan sebagian kecilnya dihibahkan kepada ibu Ngafiah karena yang selama ini menempati tanah tersebut adalah beliau. Sekaligus sebagai bentuk kasih sayang ibu Ngafiah kepada saudara sepupunya. Namun niat baik ibu selalu tertunda sampai Ibu Ngafiah kena struk. Setelah sembuh dari struk, ibu Ngafiah meminta kepada anak-anaknya untuk segera mengantar sekaligus membantu proses wakaf tersebut. Akhirnya hari Kamis-Jumat, tanggal 5-6 Januari 2012 beliau mendesak anak-anaknya untuk mengantar ke Grenggeng dengan target proses ikrar wakaf dan balik nama menjadi tanah wakaf bisa selesai selama dua hari.

Beliau berpesan bahwa tanah wakaf tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan umat Islam. Sementara tanah yang dihibahkan kepada ibu Walilah untuk ditempati sebagai rumah tinggal oleh saudaranya tersebut dan anak cucunya, bukan untuk dijual lagi. Dan Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, prosesi ikrar wakaf dan proses hibah bisa selesai selama dua hari tersebut tanpa ada kendala yang berarti.

 

Red : Heri Pramono Al Muhammady (Ketua Nadzir PCM Gombong periode 2010-2015)